Sejarah Ekonomi Indonesia
NAMA : Lucky Dzikra Mauludy
NPM :
23215862
KELAS :
1EB17
1. SEJARAH PRA KOLONIALISME
Telah tertulis di dalam
kitab kerajaan Hindu Jawa Dwipa dan kerajaan Hindu Swarnadwipa untuk kerajaan
yang berada di pulau Sumatera, pada sekitar abad 200SM. Kerajaan Hinduisme yang
ada di wilayah Nusantara(kemudiankita menyebutnya) yaitu dua kerajaan
Tarumanagara yang menguasai wilayah jawa bagian barat, dan kerajaan Kutaidi
pesisir sungai Mahakam, Kalimantan. Kebudayaan dan peradaban Nusantara sebelum
masuknya bangsa Eropa telah berkembang dengan sangat cepat, bahkan mencapai
puncak kejayaannya pada dua kerajaan besar yang ada di Nusantara kala itu,
yaitu kerajaan Sriwijaya yang menguasai Sumatera, dan kerajaan Majapahit yang
berkuasa di pulau Jawa, perniagaan antar pulau telah dilakukan juga pada
era Sejarah Indonesia Era pra Kolonial.
2. SISTEM MONOPOLI VOC
2. SISTEM MONOPOLI VOC
Kebijakan pemerintah
kolonial yang paling lama di Indonesia adalah monopoli perdagangan oleh VOC.
Dua abad sejak berdiri, pengaruh VOC baik di bidang ekonomi maupun politik
sudah tersebar di berbagai wilayah Indonesia. VOC telah mengambil banyak
keuntungandari pelaksanaan monopoli perdagangan terutama rempah-rempah. Zaman
kolonial di Indonesia sesungguhnya sudah climulai sejak tahun 1511 setelah
bangsa Portugis menduduki Malaka dan tahun kemudian menduduki Maluku.
Kolonialisme berasaI dari nama seorang petani Romawi yaitu Colonus yang pergi
jauh untuk mencari tanah yang belum dikerjakan. Lama-lama banyak orang yang
tertarik dan mengikuti jejaknya. Mereka kemudian bersama-sama menetap di suatu
tempat yang baru tersebut yang kemudian disebut colonia.
VOC yang berdiri pada tanggal 20 Maret 1602 tersebut terus berkembang dan berhasil menguasai beberapa daerah penghasil rempah-rempah di Indonesia, hal ini karena VOC merupakan wakil resmi dari kerajaan Belanda dengan diberikan hak Octrooi (hak istimewa) antara lain:
a. Hak monopoli perdagangan
b. Hak mencetak dan mengeluarkan uang
c. Hak mengadakan perjanjian
d. Hak mengumurnkan perang
e. Hak menjalankan kekuasaan kehakiman
f. Hak memungut pajak
g. Hak memiliki angkatan perang
h. Hak menyelenggarakan pemerintahan sendiri
Dengan hak-hak istimewa yang dimiliki oleh VOC, maka kongsi dagang yang sering disebut Kompeni ini berkembang dengan cepat. Kedudukan Portugis mulai terdesak, dan bendera Kompeni mulai berkibar. Pada saat itu, dalam upaya memperlancar aktivitas organisasi, VOC pada tahun 1610 memutuskan untuk membentuk jabatan Gouverneur Generaal sebagai wakil Heeren XVII di Asia, yang pada waktu itu berkedudukan di Maluku. Gubernur Jenderal VOC pertama Pieter Booth.
Kebijakan ekspansif itu semakin mudah untuk diwujudkan ketika Jan Pieterszoon Coen yang bersemboyan "tidak ada perdagangan tanpa perang dan juga tidak ada perang tanpa perdagangan" diangkat menjadi Gouverneur Generaal pada tahun 1619. Ia memindahkan pos dagang VOC di Banten dan kantor pusat VOC dari Maluku ke Batavia, dalam persaingan dengan sesama Barat memperkuat kepercayaan diri VOC, sehingga Portugis terpaksa harus segera pergi dari kepulauan Maluku dan kemudian menyerahkan Melaka kepada VOC pada tahun 1641. Sebelum itu, Belanda dengan keunggulan senjata dan memanfaatkan kompetisi dan konflik di antara penguasa lokalnya, berhasil memonopoli perdagangan pala, fuli dan cengkeh di Maluku.
Bentuk aturan paksaaan VOC yang diterapkan di Indonesia, antara lain:a. Aturan monopoli dagang, yaitu menguasai sendiri seluruh perdagangan rempah-rempah di Indonesiab. Contingen Stelsel, yaitu pajak yang harus dibayar oleh rakyat dengan menyerahkan hasil bumic. Verplichte Leverantie, yaitu kewajiban menjual hasil bumi hanya kepada VOC dengan harga yang telah ditetapkand. Preangerstelsel, yaitu kewajiban yang dibebankan kepada rakyat Priangan untuk menanam kopi
3. SISTEM TANAM PAKSA
VOC yang berdiri pada tanggal 20 Maret 1602 tersebut terus berkembang dan berhasil menguasai beberapa daerah penghasil rempah-rempah di Indonesia, hal ini karena VOC merupakan wakil resmi dari kerajaan Belanda dengan diberikan hak Octrooi (hak istimewa) antara lain:
a. Hak monopoli perdagangan
b. Hak mencetak dan mengeluarkan uang
c. Hak mengadakan perjanjian
d. Hak mengumurnkan perang
e. Hak menjalankan kekuasaan kehakiman
f. Hak memungut pajak
g. Hak memiliki angkatan perang
h. Hak menyelenggarakan pemerintahan sendiri
Dengan hak-hak istimewa yang dimiliki oleh VOC, maka kongsi dagang yang sering disebut Kompeni ini berkembang dengan cepat. Kedudukan Portugis mulai terdesak, dan bendera Kompeni mulai berkibar. Pada saat itu, dalam upaya memperlancar aktivitas organisasi, VOC pada tahun 1610 memutuskan untuk membentuk jabatan Gouverneur Generaal sebagai wakil Heeren XVII di Asia, yang pada waktu itu berkedudukan di Maluku. Gubernur Jenderal VOC pertama Pieter Booth.
Kebijakan ekspansif itu semakin mudah untuk diwujudkan ketika Jan Pieterszoon Coen yang bersemboyan "tidak ada perdagangan tanpa perang dan juga tidak ada perang tanpa perdagangan" diangkat menjadi Gouverneur Generaal pada tahun 1619. Ia memindahkan pos dagang VOC di Banten dan kantor pusat VOC dari Maluku ke Batavia, dalam persaingan dengan sesama Barat memperkuat kepercayaan diri VOC, sehingga Portugis terpaksa harus segera pergi dari kepulauan Maluku dan kemudian menyerahkan Melaka kepada VOC pada tahun 1641. Sebelum itu, Belanda dengan keunggulan senjata dan memanfaatkan kompetisi dan konflik di antara penguasa lokalnya, berhasil memonopoli perdagangan pala, fuli dan cengkeh di Maluku.
Bentuk aturan paksaaan VOC yang diterapkan di Indonesia, antara lain:a. Aturan monopoli dagang, yaitu menguasai sendiri seluruh perdagangan rempah-rempah di Indonesiab. Contingen Stelsel, yaitu pajak yang harus dibayar oleh rakyat dengan menyerahkan hasil bumic. Verplichte Leverantie, yaitu kewajiban menjual hasil bumi hanya kepada VOC dengan harga yang telah ditetapkand. Preangerstelsel, yaitu kewajiban yang dibebankan kepada rakyat Priangan untuk menanam kopi
3. SISTEM TANAM PAKSA
Cultuurstelsel (harafiah: Sistem Kultivasi
atau secara kurang tepat diterjemahkan sebagai Sistem Budi Daya) yang oleh
sejarawan Indonesia disebut sebagai Sistem Tanam Paksa, adalah peraturan yang
dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada
tahun 1830 yang mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya
(20%) untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya kopi, tebu,
dantarum (nila). Hasil tanaman ini akan dijual kepada pemerintah kolonial
dengan harga yang sudah dipastikan dan hasil panen diserahkan kepada pemerintah
kolonial. Penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 75 hari dalam
setahun (20%) pada kebun-kebun milik pemerintah yang menjadi semacam pajak.
Pada praktiknya peraturan itu dapat dikatakan tidak berarti karena seluruh wilayah pertanian wajib ditanami tanaman laku ekspor dan hasilnya diserahkan kepada pemerintahan Belanda. Wilayah yang digunakan untuk praktik cultuurstelstel pun tetap dikenakan pajak. Warga yang tidak memiliki lahan pertanian wajib bekerja selama setahun penuh di lahan pertanian.Tanam paksa adalah era paling eksploitatif dalam praktik ekonomi Hindia Belanda. Sistem tanam paksa ini jauh lebih keras dan kejam dibanding sistem monopoli VOC karena ada sasaran pemasukan penerimaan negara yang sangat dibutuhkan pemerintah. Petani yang pada zaman VOC wajib menjual komoditi tertentu pada VOC, kini harus menanam tanaman tertentu dan sekaligus menjualnya dengan harga yang ditetapkan kepada pemerintah. Aset tanam paksa inilah yang memberikan sumbangan besar bagi modal pada zaman keemasan kolonialis liberal Hindia Belanda pada 1835 hingga 1940.
Akibat sistem yang memakmurkan dan menyejahterakan negeri Belanda ini, Van den Bosch selaku penggagas dianugerahi gelar Graaf oleh raja Belanda, pada 25 Desember 1839. Cultuurstelsel kemudian dihentikan setelah muncul berbagai kritik dengan dikeluarkannya UU Agraria 1870 dan UU Gula 1870, yang mengawali era liberalisasi ekonomi dalam sejarah penjajahan Indonesia.
4. SISTEM EKONOMI KAPITALIS LIBERAL
Pada praktiknya peraturan itu dapat dikatakan tidak berarti karena seluruh wilayah pertanian wajib ditanami tanaman laku ekspor dan hasilnya diserahkan kepada pemerintahan Belanda. Wilayah yang digunakan untuk praktik cultuurstelstel pun tetap dikenakan pajak. Warga yang tidak memiliki lahan pertanian wajib bekerja selama setahun penuh di lahan pertanian.Tanam paksa adalah era paling eksploitatif dalam praktik ekonomi Hindia Belanda. Sistem tanam paksa ini jauh lebih keras dan kejam dibanding sistem monopoli VOC karena ada sasaran pemasukan penerimaan negara yang sangat dibutuhkan pemerintah. Petani yang pada zaman VOC wajib menjual komoditi tertentu pada VOC, kini harus menanam tanaman tertentu dan sekaligus menjualnya dengan harga yang ditetapkan kepada pemerintah. Aset tanam paksa inilah yang memberikan sumbangan besar bagi modal pada zaman keemasan kolonialis liberal Hindia Belanda pada 1835 hingga 1940.
Akibat sistem yang memakmurkan dan menyejahterakan negeri Belanda ini, Van den Bosch selaku penggagas dianugerahi gelar Graaf oleh raja Belanda, pada 25 Desember 1839. Cultuurstelsel kemudian dihentikan setelah muncul berbagai kritik dengan dikeluarkannya UU Agraria 1870 dan UU Gula 1870, yang mengawali era liberalisasi ekonomi dalam sejarah penjajahan Indonesia.
4. SISTEM EKONOMI KAPITALIS LIBERAL
Sistem ekonomi liberal kapitalis
adalah sitem ekonomi yang aset-aset produktif dan faktor-faktor produksinya
sebagian besar dimiliki oleh sektor individu/swasta. Sementara tujuan utama
kegiatan produksi adalah menjual untuk memperoleh laba. Sistem
perekonomian/tata ekonomi liberal kapitalis merupakan sistem perekonomian yang
memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk melaksanakan kegiatan
perekonomian seperti memproduksi barang, menjual barang, menyalurkan barang dan
lain sebagainya. Dalam perekonomian liberal kapitalis setiap warga dapat
mengatur nasibnya sendiri sesuai dengan kemampuannya. Semua orang bebas
bersaing dalam bisnis untuk memperoleh laba sebesar- besarnya dan bebas
melakukan kompetisi untuk memenangkan persaingan bebas.
Ciri-ciri dari sistem ekonomi liberal kapitalis antara lain :
a. Masyarakat diberi kebebasan dalam memiliki sumber-sumber produksi.
b. Pemerintah tidak ikut campur tangan secara langsung dalam kegiatan ekonomi.
c. Masyarakat terbagi menjadi dua golongan, yaitu golongan pemilik sumber daya produksi dan masyarakat pekerja (buruh).
d. Timbul persaingan dalam masyarakat, terutama dalam mencari keuntungan.
e.Kegiatan selalu mempertimbangkan keadaan pasar.
f. Pasar merupakan dasar setiap tindakan ekonom.
g. Biasanya barang-barang produksi yang dihasilkan bermutu tinggi.
Ciri-ciri dari sistem ekonomi liberal kapitalis antara lain :
a. Masyarakat diberi kebebasan dalam memiliki sumber-sumber produksi.
b. Pemerintah tidak ikut campur tangan secara langsung dalam kegiatan ekonomi.
c. Masyarakat terbagi menjadi dua golongan, yaitu golongan pemilik sumber daya produksi dan masyarakat pekerja (buruh).
d. Timbul persaingan dalam masyarakat, terutama dalam mencari keuntungan.
e.Kegiatan selalu mempertimbangkan keadaan pasar.
f. Pasar merupakan dasar setiap tindakan ekonom.
g. Biasanya barang-barang produksi yang dihasilkan bermutu tinggi.
Sistem ekonomi liberal kapitalis selain memilki keuntungan antara lain :
a. Menumbuhkan inisiatif dan kerasi masyarakat dalam kegiatan ekonomi,
karena masyarakat tidak perlu lagi menunggu perintah dari pemerintah.
b. Setiap individu bebas memiliki untuk sumber-sumber daya produksi, yang
nantinya akan mendorong partisipasi masyarakat dalam perekonomian.
c. Timbul persaingan semangat untuk maju dari masyarakat.
d. Mengahsilkan barang-barang bermutu tinggi, karena adanya persaingan
semangat antar masyarakat.
e. Efisiensi dan efektifitas tinggi, karena setiap tindakan ekonomi
didasarkan motif mencari keuntungan.
Adapun kelemahan yang dimiliki dalam sistem ekonomi liberal sebagai
berikut :
a. Terjadinya persaingan bebas yang tidak sehat.
b. Masyarakat yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. c.
Banyak terjadinya monopoli masyarakat.
d. Banyak terjadinya gejolak dalam perekonomian karena kesalahan alokasi
sumber daya oleh individu.
e. Pemerataan pendapatan sulit dilakukan, karena persaingan bebas
tersebut.
Selain itu ada lima institusi pokok yang membangun sitem ekonomi liberal kapitalis, yakni :
a. Hak KepemilikanSebagian besar hak kepemilikan dalam sistem ekonomi
liberal kapitalis adalah hak kepemilikan swasta/individu (private/individual
property), sehingga individu dalam masyarakat liberal kapitalis lebih
terpacu untuk produktif
b. Keuntungan. Keuntungan (profit) selain memuaskan nafsu untuk
menimbun kekayaan produktif, juga merupakan bagian dari ekspresi diri, karena
itu keuntungan dipercaya dapat memotivasi manusia untuk bekerja keras dan
produktif
c. Konsumerisme. Konsumerisme sering diidentikkan dengan hedonisme
yaitu falsafah hidup yang mengajarkan untuk mencapai kepuasan sebesar-besarnya
selama hidup di dunia.Tetapi dalam arti positif, konsumerisme adalah gaya hidup
yang sangat menekankan pentingnya kualitas barang dan jasa yang digunakan.
Sebab tujuan akhir dari penggunaan barang dan jasa adalah meningkatkan nilai
kegunaan (utilitas) kehidupan. Sehingga masyarakat liberal kapitalis
terkenal sebagai penghasil barang dan jasa yang berkualitas.
d. Kompetisi. Melalui kompetisi akan tersaring individu-individu atau
perusahaan-perusahaan yang mampu bekerja efisien. Efisiensi ini akan
menguntungkan produsen maupun konsumen, atau baik yang membutuhkan (demander)
maupun yang menawarkan (supplier).
e. Harga. Harga merupakan indikator kelangkaan, jika barang dan jasa
semakin mahal berarti barang dan jasa tersebut semakin langka. Bagi produsen,
gejala naiknya harga merupakan sinyal untuk menambah produksi agar keuntungan
meningkat.
5. ERA PENDUDUKAN JEPANG
5. ERA PENDUDUKAN JEPANG
Pendudukan Jepang di Indonesia
dengan berlangsungnya perang Dunia kedua di kawasan Asia Pasifik, (1941-1945)
Jepang berambisi untuk menguasai negara-negara Asia dan merebutnya dari
negara-negara imperalis barat. Tujuannya selain untuk kepentingan supremasi
(keunggulan dan kekuasaan) Jepang juga menjadikan daerah-daerah di asia sebagai
tempat menanamkan modal, serta memasarkan hasil industrinya. Sejak awal abad 20
Jepang telah menjadi negara industri dan mulai melaksanakan imperialisme modern
saat itu Jepang berhasil menduduki korea dan cina. Negara raksasa cina
didudukinya pada tahun 1937.
Ketika Jepang menduduki indocina, pada juli 1941 AS tidak menyetujui tindakan tersebut. Tindakan protes AS dilakukan dengan menghentikan penjualan karet, baja lemepngan, minyak bumi dan lain-lain yang sangat dibutuhkan jepang. Jepang memutuskan untuk menyerang daerah-daerah koloni eropa di Asia Tenggara tujuannya untuk memperoleh barang-barang kebutuhan perang.
Dengan itu Jepang yakin bahwa serangan tersebut menimbulkan perang dengan as. Jepang mendahului serangan terhadap pearl habour, hawaii. Pada 7-12-1941. setelah menghancurkan pearl harbour, Jepang meneruskan serangan ke filifina pada 10 Desember 1941 dan berhasil menduduki luzon dan batoon, lalu pada tanggal 16 Desember berhasil menduduki burma.Akhirnya pada 11 januari Jepang mendarat di Indonesia yaitu dirasakan kalimantan timur dan berhasil menduduki pulau kalimantan. Dari kalimantan Jepang meneruskan serangannya ke jawa sebagai pusat bertahan belanda, dan mulai menduduki daerah-daerah lainnya.
6. CITA-CITA EKONOMI INDONESIA
Perekonomian Indonesia merdeka akan berdasar kepada cita-cita tolong menolong dan usaha bersama, yang akan diselenggarakan berangsur-angsur dengan mengembangkan koperasi. Pada saat ini dilapangan ekonomi, sebagai konsekuensi dari politik kita yang tidak berdaulat, terjadi perampasan dan penguasan sebagian besar sumber daya dan aset nasional kita oleh modal asing. Hampir semua kekayaan alam kita, seperti tambang, hutan, pertanian, kekayaan laut, mata air, dan lain-lain, berada di tampuk asing.
Ketika Jepang menduduki indocina, pada juli 1941 AS tidak menyetujui tindakan tersebut. Tindakan protes AS dilakukan dengan menghentikan penjualan karet, baja lemepngan, minyak bumi dan lain-lain yang sangat dibutuhkan jepang. Jepang memutuskan untuk menyerang daerah-daerah koloni eropa di Asia Tenggara tujuannya untuk memperoleh barang-barang kebutuhan perang.
Dengan itu Jepang yakin bahwa serangan tersebut menimbulkan perang dengan as. Jepang mendahului serangan terhadap pearl habour, hawaii. Pada 7-12-1941. setelah menghancurkan pearl harbour, Jepang meneruskan serangan ke filifina pada 10 Desember 1941 dan berhasil menduduki luzon dan batoon, lalu pada tanggal 16 Desember berhasil menduduki burma.Akhirnya pada 11 januari Jepang mendarat di Indonesia yaitu dirasakan kalimantan timur dan berhasil menduduki pulau kalimantan. Dari kalimantan Jepang meneruskan serangannya ke jawa sebagai pusat bertahan belanda, dan mulai menduduki daerah-daerah lainnya.
6. CITA-CITA EKONOMI INDONESIA
Perekonomian Indonesia merdeka akan berdasar kepada cita-cita tolong menolong dan usaha bersama, yang akan diselenggarakan berangsur-angsur dengan mengembangkan koperasi. Pada saat ini dilapangan ekonomi, sebagai konsekuensi dari politik kita yang tidak berdaulat, terjadi perampasan dan penguasan sebagian besar sumber daya dan aset nasional kita oleh modal asing. Hampir semua kekayaan alam kita, seperti tambang, hutan, pertanian, kekayaan laut, mata air, dan lain-lain, berada di tampuk asing.
Padahal, Bung Karno pernah mengingatkan, sebuah bangsa
tidak bisa dikatakan merdeka jikalau kebijakan ekonominya membiarkan kekayaan
dari hasil-hasil buminya mengalir ke peti-peti kekayaan perusahaan-perusahaan
raksasa kapitalis dunia.
7.
PEREKONOMIAN INDONESIA SETIAP PERIODE PEMERINTAHAN
a.
Pemerintahan Orde Lama
Pada masa awal kemerdekaan perekonomian Indonesia amatlah buruk antara lain
disebabkan oleh inflasi yang sangat tinggi karena pada saat itu indonesia
menggunakan 4 mata uang, yaitu mata uang De Javasche Bank, mata uang pemerintah
Hindia Belanda, dan mata uang pendudukan Jepang. Kemudian pada tanggal 6 Maret
1946, Panglima AFNEI (Allied Forces for Netherlands East Indies/pasukan sekutu)
mengumumkan berlakunya uang NICA di daerah-daerah yang dikuasai sekutu. Pada
bulan Oktober 1946, pemerintah RI juga mengeluarkan uang kertas baru, yaitu ORI
(Oeang Republik Indonesia) sebagai pengganti uang Jepang. Berdasarkan teori
moneter, banyaknya jumlah uang yang beredar mempengaruhi kenaikan tingkat
hargapenyebab lain adalah adanya blokade ekonomi oleh Belanda sejak bulan
November 1945 untuk menutup pintu perdagangan luar negri RI,kosongnyakas negara
akibat penjajahan,eksploitasi besar-besaran di masa penjajahan.
Dumairy (1996) menggambarkan kondisi
perekonomian Indonesia:
a) Periode 1945 – 1950.
b) Periode demokrasi parlementer/liberal
(1950 – 1959)
Banyak partai politik Sektor formal: pertambangan, pertanian, distribusi, bank, dan transportasi yang padat modal dan dikuasai oleh asing serta berorientasi ekspor memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap PDB
8 kali perubahan kabinet:
ü Kabinet Hatta dengan
kebijakan Reformasi moneter via devaluasi mata uang local (Gulden) dan
pemotongan uang sebesar 50% atas uang kertas yang beredar yang dikeluarkan oleh
De Javasche Bank dengan nilai nominal > 2,50 Gulden Indonesia.
ü Kabinet Natsir dengan
kebijakan perumusan perencanaan pembangunan ekonomi yang disebut dengan Rencana
Urgensi Perekonomian (RUP)
ü Kabinet Sukiman dengan
kebijakan nasionalisasi oleh De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia dan penghapusan
system kurs berganda
ü Kabinet Wilopo dengan
kebijakan anggaran berimbang dalam APBN, memperketat impor, merasionalisasi
angkatan bersenjata dengan modernisasi dan pengurangan jumlah personil, serta
pengiritan pengeluaran pemerintah
ü Kabinet Ali I dengan
kebijakan pembatasan impor dan kebijakan uang ketat
ü Kabinet Burhanudin
dengan kebijakan liberalisasi impor, kebijakan uang ketat untuk menekan jumlah
uang yang beredar, dan penyempurnaan program benteng (bagian dari program RUP
yakni program diskriminasi rasial untuk mengurangi dominasi ekonomi),
memperkenankan investasi asing masuk ke Indonesia, membantu pengusaha pribumi,
serta menghapus persetujuan meja bundar (menghilangkan dominasi belanda
perekonomian nasional.
ü Kabinet Ali II dengan
kebijakan rencana pembangunan lima tahun 1956 - 1960
ü Kebinet Djuanda dengan
kebijakan stabilitas politik dan nasionalisasi perusahaan belanda.
c) Periode
demokrasi terpimpin (1959 – 1965)
Dilakukan nasionalisasi terhadap
perusahaan-perusahaan belanda.
Lebih cenderung kepada pemikiran sosialis
komunis
Politik tidak stabil sampai pada puncaknya pada
September 1965
b. Permerintahan
Orde Baru
Sejak Maret
1966.Pemerintah mengarahkan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan
ekonomi dan sosial.
Pemerintah meninggalkan idiologi komunis dan
menjalin hubungan dengan Negara barat dan menjadi anggota PBB, IMF, dan Bank
Dunia.
Setelah jatuhnya masa pemerintahan presiden Soekarno dan digantikan oleh
presiden Soeharto,banyak rencana untuk membangun Indonesia menjadi negara yang
lebih maja dan mampu bersaing dengan negara lain. Pada masa ini perbaikan di
bidang ekonomi dan politik adalah prioritas utama. Program pemerintahan saat
itu berorientasi pada usaha mengontrol laju inflasai yang menjadi warisan dari
pemerintahan sebelumnya,penyelamatan keuangan negara dan pengamanan kebutuhan
pokok rakyat. Pengendalian inflasi mutlak dibutuhkan, karena pada awal 1966
tingkat inflasi kurang lebih 650 % per tahun.
Setelah melihat pengalaman masa lalu, dimana dalam sistem ekonomi liberal
ternyata pengusaha pribumi kalah bersaing dengan pengusaha nonpribumi dan
sistem etatisme tidak memperbaiki keadaan, maka dipilihlah sistem ekonomi
campuran dalam kerangka sistem ekonomi demokrasi pancasila. Ini merupakan
praktek dari salahsatu teori Keynes tentang campur tangan pemerintah dalam
perekonomian secara terbatas. Jadi, dalam kondisi-kondisi dan masalah-masalah
tertentu, pasar tidak dibiarkan menentukan sendiri. Misalnya dalam penentuan UMR
dan perluasan kesempatan kerja. Ini adalah awal era Keynes di Indonesia.
Kebijakan-kebijakan pemerintah mulai berkiblat pada teori-teori Keynesian.
Kebijakan ekonominya diarahkan pada pembangunan di segala bidang, tercermin
dalam 8 jalur pemerataan : kebutuhan pokok, pendidikan dan kesehatan, pembagian
pendapatan, kesempatan kerja, kesempatan berusaha, partisipasi wanita dan
generasi muda, penyebaran pembangunan, dan peradilan. Semua itu dilakukan
dengan pelaksanaan pola umum pembangunan jangka panjang (25-30 tahun) secara
periodik lima tahunan yang disebut Pelita (Pembangunan lima tahun).
Hasilnya, pada tahun 1984 Indonesia berhasil swasembada beras, penurunan
angka kemiskinan, perbaikan indikator kesejahteraan rakyat seperti angka
partisipasi pendidikan dan penurunan angka kematian bayi, dan industrialisasi
yang meningkat pesat. Pemerintah juga berhasil menggalakkan preventive checks
untuk menekan jumlah kelahiran lewat KB dan pengaturan usia minimum orang yang
akan menikah.
Pada awal pemerintahannya usaha – usaha yang dilakukan sangat berhasil
untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.Namun dibalik itu dampak
negatifnya adalah kerusakan serta pencemaran lingkungan hidup dan sumber-sumber
daya alam, perbedaan ekonomi antar daerah, antar golongan pekerjaan dan antar
kelompok dalam masyarakat terasa semakin tajam, serta penumpukan utang luar
negeri. Disamping itu, pembangunan menimbulkan konglomerasi dan bisnis yang
sarat korupsi, kolusi dan nepotisme. Pembangunan hanya mengutamakan pertumbuhan
ekonomi tanpa diimbangi kehidupan politik, ekonomi, dan sosial yang adil.
Sehingga meskipun berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tapi secara
fundamental pembangunan nasional sangat rapuh. Akibatnya, ketika terjadi krisis
yang merupakan imbas dari ekonomi global, Indonesia merasakan dampak yang
paling buruk. Harga-harga meningkat secara drastis, nilai tukar rupiah melemah
dengan cepat, dan menimbulkan berbagai kekacauan di segala bidang, terutama
ekonomi.
Kondisi perekonomian Indonesia:
(a) ketidakmampuan membayar hutang LN US $32
Milyar
(b) Penerimaan ekspor hanya setengah dari
pengeluaran untuk impor
(c) Pengendalian anggaran belanja dan pemungutan
pajak yang tidak berdaya
(d) Inflasi 30 – 50 persen per bulan
(e) Kondisi prasarana perekonomian yang bururk
(f) Kapasitas produktif sektor industri dan
ekspor menurun
Prioritas kebijakan ekonomi:
(a) Memerangi hiperinflasi
(b) Mencukupkan persediaan pangan (beras)
(c) merehabilitasi prasaran perekonomian
(d) Peningkatan ekspor
(e) Penyediaan lapangan kerja
(f) Mengundang investor asing
Program ekonomi orde baru mencakup:
(a)Jangka pendek
· Juli
– Desember 1966 untuk program pemulihan
· Januari
– Juni 1967 untuk tahap rehabilitasi
· Juli
– Desember 1967 untuk tahap konsolidasi
· Januari
– Juni 1968 untuk tahap stabilisasi
(b)Jangka panjang yang berupa Rencana Pembangunan
Lima Tahun (REPELITA) mulai April tahun 1969.
Dalam rangka mendukung kebijakan jangka pendek,
pemerintah:
(a) Memperkenalkan kebijakan anggaran berimbang
(balanced budget policy)
(b) Pembentukan IGGI
(c) Melakukan reformasi terhadap sistem perbankan
· UU
tahun 1967 tentang Perbankan
· UU
tahun 1968 tentang Bank Sentral
· Uu
tahun 1968 tentang Bank Asing
(d) Menjadi anggota kembali IMF
(e) Pemberian peran yang lebih besar kepada bank
bank dan lembaga keuangan lain sebagai ’”agen pembangunan”. Dengan memobilisasi
tabungan masyarakat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan memainkan peranan
penting untuk pembangunan pasar uang dan pasar modal.
Mulai 1 April 1969, Program pembangunan
jangka panjang terdiri dari tahapan-tahapan REPELITA dengan sasaran:
(a) stabilitas perekonomian
(b) pertumbuhan ekonomi
(c) pemerataan hasil pembangunan
REPELITA I è 1969 – 1974 dengan sasaran:
(a) stabilitas perekonomian; (b) pertumbuhan ekonomi; dan (c) pemerataan hasil
pembangunan
REPELITA II è 1974 – 1979 dengan sasaran:
(a) pertumbuhan ekonomi; (b) pemerataan hasil pembangunan; dan (c) stabilitas
perekonomian
REPELITA III è 1979 – 1984,
REPELITA IV è 1984 – 1989, REPELITA V è 1989 – 1994, REPELITA
VI è 1994 – 1999 dengan sasaran: (a) pemerataan hasil pembangunan;
(b) pertumbuhan ekonomi dan (c) stabilitas perekonomian
Prestasi Ekonomi dan Kondisi Ekonomi Per REPELITA.
REPELITA I dan II
Prestasi:
· Pertumbuhan
ekonomi 6 persen per tahun
· Investasi
meningkat dari 11 persen menjadi 24 persen dari PDB selama 10 tahun
· Kontribusi
tabungan meningkat dari 23 persen menjadi 55 persen
· Sumber
penghasilan utama devisa adalah ekspor minyak bumi kurang lebih 2/3 dari total
penerimaan
· Inflasi
rata-rata 17 persen
· Porsi
pelunasan hutang 9,3 persen dan 11,8 persen dari
pengeluaran
Kondisi:
· Boom
minyak tahun 1973 dan 1978
Kibijakan:
· Devaluasi
rupiah dari Rp 415 menjadi Rp 625/$
REPELITA III
Prestasi:
· Ekspor
neto migas turun 38 persen
· Ekspor
nonmigas turun 30 persen
· Impor
nonmigas meningkat
· Neraca
berjalan (current account) dari suprlus US $2.7 milyar menjadi difisit US $6.7
milyar
· PDB
tumbuh hanya 2,24 persen
· Laju
inflasi rata-rata 9 persen
· Porsi
pelunasan hutang 17,3 persen dari pengeluaran
Kondisi:
· Boom
minyak tahun 1982/1983
· Kemelut
minyak dan resesi dinegara industri menyebabkan OPEC memotong harga dan
produksi minyak
· Devaluasi
28 persen tahun 1983
Kibijakan:
· Penghematan
anggaran belanja
· Penambahan
pinjaman luar negeri
· Penggalakan
ekspor nonmigas
· Pembatasan
impor barang mewah
· Pengurangan
perjalanan ke luar negeri
· Penggalakan
penggunaan barang dalam negeri
· Penjadualan
ulang dan pembatalan 50 persen proyek sektor publik
· Gaji
pegawai negeri tidak dinaikkan
· Penaikan
harga bahan bakar minyak tahun 1984 dengan mengurangi subsidi
· Pengurangan
subsidi atas pupuk, pesticida, dan pangan
· Pembaharuan
UU perpajakan tahun 1984
· Deregulasi
parcial sistem perbankan dengan menyerahkan penentuan tingkat bunga kepada masing-masing
bank peniadaan sistem pagu kredit
REPELITA IV
Prestasi:
· Pertumbuhan
ekonomi rata-rata 5,32 persen
· Beban
hutang luar negeri menjadi membesar
· Penghematan
anggaran dan pengawasan serta penertiban penggunaan anggaran
· Perkembangan
pasar modal dan sektor perbankan yang luar biasa
· Laju
inflasi rata-rata 9 persen
· Porsi
pelunasan hutang 41,2 persen dari pengeluaran
Kondisi:
· Harga
minyak turun menjadi US $10
Kibijakan:
· Deregulasi
dan debirokratisasi untuk mengurangi cambur tangan pemerintah untuk memberikan
kesempatan pihak swasta dan investor asing dalam pembangunan
· Devaluasi
untuk meningkatkan ekspor non migas
REPELITA V
Prestasi:
· Pertumbuhan
ekonomi rata-rata 6,7 persen
· Ekspor
komoditas non migas meningkat
· Porsi
pelunasan hutang 44,6 persen dari pengeluaran
Kondisi:
· Harga
minyak turun menjadi US $10
Kibijakan:
· Deregulasi
dan debirokratisasi terus dilakukan untuk menekan ekonomi biaya tinggi dan
meningkatkan efisiensi nasional
REPELITA VI
Kibijakan:
· Pemberian
paket-paket deregulasi dalam bentuk penyusunan dan perbaikan undang-undang
yakni UU No. 25 tahun 1990 tentang koperasi, UU No. 7 tahun 1992 tentang
Perbankan, dan UU No. 9-12 tentang perpajakan
Prinsip Anggaran Berimbang Dinamis.
Berimbang yakni pengeluaran rutin dan pembangunan
selalu sama dengan seluruh penerimaan negara
Dinamis yakni jika penerimaan > pengeluaran,
maka pengeluaran dapat ditingkatkan. Jika penerimaan < pengeluaran, maka
harus dilakukan penyesuaian pengeluaran.
Era Pembangunan Jangka Panjang II dan
Globalisasi dalam kurun waktu 1994 – 2019.
Era globalisasi tahun 2020
Berdasarkan putaran Uruguay, segala bentuk proteksi
perdagangan baik barang maupun jasa harus dihapuskan
Target REPELITA VI tingkat rata-rata pertumbuhan
per tahun:
· Pertumbuhan
ekonomi secara keseluruhan 6,2 persen
· Sektor
pertanian, perikanan, dan kehutanan 3,5 persen
· Sektor
industri 9 persen
· Sektor
manufaktur diluar migas 10 persen
· Sektor
jasa 6,5 persen
· Inflasi
rata-rata 5 persen
· Ekspor
nonmigas 16,5 persen
· Ekspor
manufaktur 17,5 persen
· Debt
Service Ratio 20 persen
· PDB
Rp 2,150 trilliun
· Nilai
Investasi Rp 660,1 trilliun atau 30,7 % dari PDB
· Dana
dalam negeri : (a) Pemerintah (25,5
%)
Rp 169,4 trilliun
(b) Swasta (69
%) Rp
454,1 trilliun
· Dana
luar negeri (5,5
%)
Rp 36,6 trilliun
Era PJPT II, BAPPENAS telah mensimulasikan 2
skenario terhadap pertumbuhan ekonomi;
(a) Skenario pertama (Optimis) menyatakan REPELITA
VI sampai X, pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai 7,9 persen per tahun,
penekanan pertumbuhan penduduk dari 1,6 % akhir REPELITA VI menjadi 0,9 % akhir
REPELITA X, pengangguran REPELITA VI 2,2 % dan akhir REPELITA X 0,5 %, dan
akhir REPELITA X pendapatan perkapita Indonesia US $3,000.
(b) Skenario kedua (Pesimis) menyatakan REPELITA VI
sampai X, pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai 6,8 persen per tahun,
penekanan pertumbuhan penduduk dari 1,6 % akhir REPELITA VI menjadi 0,9 % akhir
REPELITA X, pengangguran REPELITA VI 2,6 % dan akhir REPELITA X 4 %, dan akhir
REPELITA X pendapatan perkapita Indonesia US $2,330
Kondisi utama yang harus dipenuhi untuk
pembangunan ekonomi yang baik:
a) Kemauan politik yang kuat
b) Stabilitas ekonomi dan politik
c) SDM yang lebih baik
d) Sistem politik dan ekonomi yang terbuka
yang beroorientasi ke barat
e) Kondisi ekonomi dan politik dunia
yang lebih baik
c. Pemerintahan Transisi (Habibie)
Pemerintahan presiden
BJ.Habibie yang mengawali masa reformasi belum melakukan manuver-manuver yang
cukup tajam dalam bidang ekonomi. Kebijakan-kebijakannya diutamakan untuk
mengendalikan stabilitas politik. Pada masa kepemimpinan presiden Abdurrahman
Wahid pun, belum ada tindakan yang cukup berarti untuk menyelamatkan negara
dari keterpurukan. Padahal, ada berbagai persoalan ekonomi yang diwariskan orde
baru harus dihadapi, antara lain masalah KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme),
pemulihan ekonomi, kinerja BUMN, pengendalian inflasi, dan mempertahankan kurs
rupiah. Malah presiden terlibat skandal Bruneigate yang menjatuhkan
kredibilitasnya di mata masyarakat. Akibatnya, kedudukannya digantikan oleh
presiden Megawati
a) Tanggal 14
dan 15 Mei 1997, kurs bath terhadap US$ mengalami penurunan (depresiasi)
sebagai akibat dari keputusan jual dari para investor yang tidak percaya lagi
thd prospek ekonomi Thailand dalam jk pdk.
Pemerintah Thailand mengintervensi dan didukung
oleh bank sentral singapora, tapi tidak mampu menstabilkan kurs Bath, sehingga
bank sentral Thailand mengumumkan kurs bath diserahkan pada mekanisme pasar.
2 Juli 1997, penurunan nilai kurs bath terhadap
US$ antara 15% - 20%
b) Bulan Juli
1997, krisis melanda Indonesia (kurs dari Rp 2.500 menjadi Rp 2.650.) BI
mengintervensi, namun tidak mampu sampai bulan maret 1998 kurs melemah sampai
Rp 10.550 dan bahkan menembus angka Rp 11.000/US$.
Langkah konkrit untuk mengatasi krisis:
a)
Penundaan proyek Rp 39 trilyun untuk mengimbangi keterbatasan anggaran Negara
b) BI
melakukan intervensi ke bursa valas
c) Meminta
bantuan IMF dengan memperoleh paket bantuan keuangan US$ 23 Milyar pada bulan Nopember 1997.
d) Mencabut
ijin usaha 16 bank swasta yang tidak sehat
Januari 1998 pemerintah Indonesia menandatangani
nota kesepakatan (LOI) dengan IMF yang mencakup 50 butir kebijakan yang
mencakup:
a) Kebijakan
ekonomi makro (fiscal dan moneter) mencakup: penggunaan prinsip anggaran
berimbang; pengurangan pengeluaran pemerintah seperti pengurangan subsidi BBM
dan listrik; pembatalan proyek besar; dan peningkatan pendapatan pemerintah
dengan mencabut semua fasilitas perpajakan, penangguhan PPN, pengenaan pajak
tambahan terhadap bensin, memperbaiki audit PPN, dan memperbanyak obyek pajak.
b) Restrukturisasi
sektor keuangan
c) Reformasi
struktural
Bantuan gagal diberikan, karena pemerintah
Indonesia tidak melaksanakan kesepakatan dengan IMF yang telah ditandatangani.
Indonesia tidak mempunyai pilihan kecuali harus
bekerja sama dengan IMF. Kesepakatan baru dicapai bulan April 1998 dengan nama
“Memorandum Tambahan mengenai Kebijaksanaan Ekonomi Keuangan” yang merupakan
kelanjutan, pelengkapan dan modifikasi 50 butir kesepakatan. Tambahan
dalam kesepakatan baru ini mencakup:
a) Program
stabilisasi perbankan untuk stabilisasi pasar uang dan mencegah hiperinflasi
b) Restrukturisasi
perbankan untuk penyehatan system perbankan nasional
c) Reformasi
structural
d) Penyelesaian
utang luar negeri dari pihak swasta
e) Bantuan
untuk masyarakat ekonomi lemah.
d. Pemerintahan Reformasi
(Abdurrahman Wahid)
Mulai pertengahan tahun 1999 Target:
a)
Memulihkan perekonomian nasional sesuai dengan
harapan masyarakat dan investor
b) Menuntaskan
masalah KKN
c) Menegakkan
supremasi hukum
d) Penegakkan
hak asasi manusia
e) Pengurangan
peranan ABRI dalam politik
f) Memperkuat
NKRI (Penyelesaian disintegrasi bangsa)
Kondisi:
a) Pada tahun 1999 pertumbuhan ekonomi positif
(mendekati 0)
b) Tahun 2000 pertumbuhan ekonomi 5%
c) Kondisi moneter
stabil ( inflasi dan suku bunga rendah)
d) Tahun 2001, pelaku bisnis dan
masyarakat kurang percaya kepada pemerintahan sebagai akibat
dari pernyataan presiden yang controversial, KKN,
dictator, dan perseteruan dengan DPR
e) Bulan maret 2000, cadangan devisa menurun
dari US$ 29 milyar menjadi US$ 28,875 milyar
f) Hubungan dengan IMF
menjadi tidak baik sebagai akibat dari: penundaan pelaksanaan amandemen
UU No. 23 tahun 1999 mengenai Bank Indonesia; penerapan
otonomi daerah (terutama kebebasan untuk hutang
pemerintah daerah dari LN); dan revisi APBN 2001.
g) Tahun 2001, pertumbuhan ekonomi
cenderung negative, IHSG merosot lebih dari 300 poin, dan nilai tukar
rupiah melemah dari Rp 7000 menjadi Rp 10.000 per US$.
Komentar
Posting Komentar